Harianjakarta.com,Jakarta – Bagi masyarakat Jawa, nini thowok sudah menjadi urband legend sejak dulu. Nini thowok adalah boneka yang terbuat dari siwur (batok kelapa), bentuknya menyerupai jelangkung namun berpakaian seperti layaknya perempuan. Fungsi nini thowok adalah sebagai media untuk memanggil arwah atau roh, sehingga bisa dibilang nini thowok adalah jelangkung perempuan. Bahkan banyak yang menganggap nini thowolc lebih menyeramkan daripada jelangkung, karena ukuran fisiknya yang besar setinggi manusia, sehingga saat kerasukan diperlukan dua hingga tiga orang untuk mengendalikannya.

Rumah produksi TBS Films mengangkat legenda nini thowok ini ke media film layar lebar dengan judul “Nini Thowok”. Film bergenre horor ini dibintangi oleh Natasha Wilona, artis remaja yang sedang digandrungi saat ini. Turut mendukung sederet aktor dan aktris senior seperti Ingrid Widjanarko, Jajang C. Noer, Gesata Stella, dan Slamet Ambari yang bermain cemerlang dalam film Turah. Ada pula pemain anak-anak Nicole Rossi dan Rasyid Al Buqhory.

Porsi sutradara dipercayakan kepada Erwin Arnada, nama senior dalamdunia film Indonesia yang dulu membidani film-film sukses seperti Jelangkung (2002), Tusuk Jelangkung, Bangsal 13, Catatan Akhir Sekolah, 30 Hari Mencari Cinta, dan sebagainya. Erwin Arnada sempat vacuum bertahun-tahun sejak hijrah ke Pulau Bali, sehingga film Nini Thowok ini menjadi debutnya comeback ke dunia perfilman nasional, khususnya film horor.

Hari ini (Kamis, 11/01/2018) TBS Films merilis official trailer, poster dan original soundtrack (OST) di The Hook Resto & Bar, Senopati. Hadir trio produser (Ronny Irawan, Hendro Djasmoro, dan Andreas Setia Putra), sutradara Erwin Arnada, dan para pemain. Selain itu, penulis novel hits Agnes Davonar (Surat Kecil Untuk Tuhan, My Idiot Brother, Ayah Mengapa Aku Berbeda) juga nampak hadir. Rupanya TBS Films melibatkan Agnes sebagai creative advisor, memperkuat skenario yang ditulis oleh Alim Sudio & Erwin Arnada.

Ibarat pepatah, sebuah film tanpa soundtrack tak ubahnya seperti sayur tanpa garam. Soundtrack juga menjadi salah satu kekuatan dari nilai jual sebuah film. TBS Films pun menggaet Mytha Lestari, penyanyi yang sebelumnya menelurkan hits lewat lagu Aku Cuma Punya Hati. Single sekaligus debut perdana Mytha di tahun 2018 ini bejudul “Takkan Pernah Mati”, ciptaan Raguel Lewi. Aransemen dan lirik lagu ini memiliki keterikatan yang dalam dengan cerita dan nuansa film, seperti adanya ornamen gending Jawa dalam beberapa bagian lagu. Bagi Mytha, ini pertama kalinya dia mengisi soundtrack untuk film layar lebar dan dia sangat excited menerima tawaran dari pihak TBS Films.

Mengisi soundtrack film horor juga sempat membuat Mytha mengalami kejadian mistis yang tidak akan pernah dilupakannya. Ceritanya, setelah selesai take vocal di Jakarta pada bulan Nopember 2017 lalu, Mytha menikah dan berangkat ke Jepang bersama suaminya untuk berbulan madu. Di Tokyo pada sebuah malam di hotelnya, Mytha didatangi oleh sesosok hantu perempuan yang mirip dengan tokoh Nyonya Oei dalam film Nini Thowok. Hantu perempuan itu sempat memeluknya di tempat tidur dan membuat Mytha menjerit ketakutan di tengah malam, sampai-sampai suaminya terbangun.

Selain kepada Mytha, TBS Films juga mempercayakan lagu soundtrack lainnya kepada band indie bernama Belang Benar. Band ini beranggotakan Fere (Gitaris Lyla), Amec Aris (ex-drummer Lyla), dan Diren (vokalis). Ini juga pertama kalinya Belang Benar memperoleh kesempatan mengisi soundtrack film. Lagu berjudul “Na na na na” yang dicipta kan oleh Fere ini easy listening, namun tak menghilangkan esensi lagu yang erat dengan filmnya.

Ditanya tentang kejadian mistis saat syuting di Solo dan Yogya, Ronny Irawan membuka rahasia bahwa penampakan hantu lemari yang ada di bagian akhir trailer ternyata benar-benar nyata. Scene tersebut merupakan adegan improvisasi mendadak hasil kesepakatan produser dan sutradara di lokasi shooting. ”.ladi ceritanya pada malam pertama syuting tiba-tiba salah seorang kru tergopoh-gopoh ke ruang istirahat artis. Kru tersebut terlihat pucat dan ketakutan. Begitu ditanya, dia bercerita baru saja melihat sosok nenek-nenek berambut putih panjang dan berkebaya Jawa keluar dari dalam lemari tua yang merupakan properti syuting. Langsung kami semua shock,” kata Erwin Arnada. Alhasil sosok hantu lemari pun malah dibuat sedemikian rupa sehingga mirip penampakan aslinya. Anehnya lagi, Lea Arta Warow si pemeran hantu nenek, sempat diteror hantu nenek dan diikuti sampai ke hotel tempatnya menginap di Solo. ”Tapi kami berpikir positif saja, bahwa adegan ini akan jadi lebih menakutkan karena memang hantu nenek tersebut ada di dunia nyata,” jelas Ronny lagi.

Selain itu, Gesata Stella pemeran Nyonya Oei juga sempat kerasukan saat syuting hari pertama. ”Saya harus break syuting keesokan harinya untuk pemulihan, karena badan saya lemas seharian,” kata Gesata. Menurutnya, setiap memakai kostum dan wig karakter Nyonya Oei, badannya terasa berat dan tiba-tiba mood-nya berubah menjadi sangat sedih, bahkan dia sempat menangis berjam-jam tanpa tahu penyebabnya. (Budi)