TIGA PASANGAN CAGUB BERSAING DI PILKADA SULAWESI SELATAN

HARIANJAKARTA.com, Jakarta- Tingkat pengenalan kandidat pilgub Sulawesi Selatan belum ada yang mencapai 80 %. Tingkat pengenalan kandidat paling tinggi adalah Ichsan Yasin Limpo (IYL) sebesar 76.7%. Menyusul di posrsi kedua adaiah Aziz Kahar Mudzakar (AKM) 66.6%, Posisi ketiga Nurdin Halid (NH) 61.8%, menyusul Andi Mudzakar (AM) 50,4% Nurdin Abdulllah (NA) 50,3%, Agus Arifin Numang (AAN) 50.0% Andi Sudirman Sulaeman (ASS) 20.3% dan Tanribali Lamo (TL) 18.3%.

Data survei ini menunjukkan bahwa kekuatan kandidat masih dalam posisi berimbang, terutama di tiga pasangan bersaing ketat yaitu pasangan IYL AM yang memperoleh dukungan 24.3%, lalu di posisi kedua pasangan NH- AKM 20.1% bersaing dengan pasangan NA- ASS 18.0%. Sedangkan pasangan AAN -TL agak tertinggal di posisi 8.9%. Sementara yang belum memutuskan/Tidak Tahu/Tldak Jawab masih cukup tmggi sebesar 28.9%.

Ketatnya persaingan kandidat daiam piigub Sulsel dapat dilihat data elektabilitas pasangan calon gubernur baik dalam penanyaan tertutup maupun pertanyaan terbuka atau top of mind yang menunjukkan konsistensi antara elektabilitas pasangan calon dengan elektabilitas cagub secara personal. Dalam pertanyaan terbuka atau spontan, posisi elektabilitas cagub yang paling dominan ada 3 nama yaitu Nurdin Abduliah dengan 12.6%, Nurdin Halid 10.8%, Ichsan Yasin Limpo 10.5%. Agus Arifin Numang 3.5%, Sahrul Yasin Limpo 2.6% dan 57.4% menjawab rahasia/belum memutuskan pilihan/tidak tahu/tidak jawab. Dalam pertanyaan terbuka, ketiga nama tampak bersaing

Dalam pertanyaan tertutup, elektabilitas ketiga cagub tersebut bersaing cukup ketat. Elektabiiitas lYL 26.6%, NA 10.1%, NH 19.1% dan sementara AAN 9.8%. Tetapi jumiah pemilih yang menjawab rahasia/belum memutuskan/ tidak tahu/ tidak jawab masih cukup tinggi yaitu sebesar 24.8%.

Sementara untuk posisi calon wakil gubernur sosok Aziz Kahar Mudzakar yang menjadi pasangan Nurdin Halid ini menempati urutan teratas dengan elektabilitas 24.4%, Sementara Andi Mudzakar dengan Andi Sudirman Sulaeman bersaing masing-masing 14.1% dan 11.6%. Sedangkan Tanribali Lamo hanya 4.8%. Pemilih yang menjawab rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab masih tinggi yaitu 45.1%.

Lalu seberapa kuat sesungguhnya kekuatan riil pasangan cagub. Data survei ini menunjukkan kekuatan riil kandidat masih cenderung rendah, di bawah 15.0%. Hal itu bisa diiihat dari data pendukung loyal (strong supporter) dimana pemilih yang tidak akan berubah masing-masing paslon juga menunjukkan persaingan ketat. Pasangan NA-ASS memiliki strong supporter 14.4%, IYL AM 13.5%, dan NH AKM 12.9%, sedangkan pasangan AAN-TL 4.5%. Sementara itu, swing voters masih sangat tinggi yakni 54.5%. Dari data di atas menunjukkan semua pasangan masih memiliki peluang menang. Namun dari semua peluang, pasangan NH AKM memiliki peluang besar karena figur AKM wakilnya berpotensi memberikan kontribusi suara jika dilihat dari elektabilitas cawagub. Asalkan figur AKM mampu dikapitalisasi untuk mendulang suara.

Survei ini juga memotret sejumlah isu Iokal diantaranya adaIah isu politik dinasti yang tengah menghangat kembali. Dalam temuan survei ini terkait dengan isu dinasti politik, hanya 20.1% yang pernah mendengar politik dinasti di Sulawesi Selatan. Dari 20.1% yang pernah mendengar, 63.9% memahami makna politik dinasti. Dari 20.1% yang pernah mendengar ada 77.7% yang kurang menginginkan/tidak menginginkan politik dinasti berkuasa. Data ini menunjukkan indikator adanya potensi penolakan terhadap kandidat yang memillki hubungan keluarga dengan dinasti. Semakin tinggi masyarakat mendengar/mengetahui dan memahami sisi negatif politik dinasti semakin tinggi pula penolakan terhadap polltik dinasti. Ha| inl perlu menjadi ”warning” bagi lchsan Yasin Limpo yang merupakan keluarga dinasti Yasin Limpo. lni bisa menjadi kelemahan bagi Ichsan Yasin Limpo. Peringatan ini berlaku juga bagi kandidat dimanapun berada. Jika ada gerakan penolakan terhadap politik dinasti secara masif dan terstruktur dan sistematis yang mampu membangun kesadaran masyarakat maka gerakan tersebut akan efektlf untuk menurunkan (mendowngrade) elektabilitasnya.

Namun, dalam sejumlah fakta empirik, justru kandidat yang berasa| dari keIuarga dinasti kerap memenangi pilkada di sejumlah daerah, meskipun dari seiumlah hasil survei pada umumnya penolakan terhadap kekuasaan dinasti cenderung tinggi jika dibandingkan yang menerima. Penyebabnya antara lain adaIah karena kurangnya informasi dan pemahaman masyarakat tentang sisi negatif politik dinasti. Selain itu ada faktor Iain di luar masalah politik dinasti.

Pengambilan data survei ini dilakukan pada 19-24 Februari 2018. Survei menggunakan metode multistage random sampling, dengan jumlah responden 800, margin of error 3.5%. Wawancara dilakukan secara tatap muka Iangsung dengan menggunakan kusioner, menggunakan sistem quality control yang ketat. (Iksa n)