Harianjakarta.com, Jakarta. – Karya-Karya Inspiratif Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) dari seluruh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan Negara(Rutan) se-Indonesia selalu menjadi hal menarik bagi sosok Evy Amir Syamsudin untuk mengabadikan dan menuangkannya dalam kisah-kisah yang menggetarkan hati lewat sebuah buku “Made In Prison” yang diluncurkan hari ini, Jumat (9/3) di Djakarta Theater.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (DitjenPAS) Sri Puguh Budi Utami yang turut hadir dalam peluncuran buku “Made In Prison” dalam sambutannya mengatakan, hal menarik dari buku ini adalah mengenalkan sosok-sosok di balik karya unggulan warga binaan pemasyarakatan yang menginspiratif.

“Buku ini menggambarkan cerita-cerita positif para WBP di balik karya tersebut baik sedih, lucu dan mengharukan yang membuat pembaca bisa berempati dan merubah stigma buruk pada kehidupan di balik tembok jeruji Lapas,” ucap Utami

Dubes Italia mengatakan, buku ini bercerita sisi lain dari narapidana. Dia salut pada narapidana yang masih bisa menelurkan karya-karya yang berkualitas.

Saya pikir ini luar biasa. Ini merupakan sebuah komitmen yang luar biasa bagi Ibu Evy sejak bapak (Amir Syamsuddin) sebagai Menkumham dan bahkan setelah selesai. Ini luar biasa. Ini juga memberikan kesempatan luar biasa bagi para narapidana yang ada di dalam, kata Dubes Italia .

Evy mendirikan Second Chance Foundation yang memiliki misi membantu lembaga permasyarakatan meningkatkan kualitas produksi dan memasarkan hasil karya warga binaan lapas di seluruh Indonesia. Evy merupakan istri mantan Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin.

Mengapresiasi buku Voicing the Voiceless yang dibuat Evy. Lewat buku itu, Evy berupaya mengubah pandangan masyarakat tentang penjara dengan melihat nilai-nilai kemanusiaan di balik jeruji besi.Istri Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsuddin era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

Made in Prison merupakan buku kedua saya. Buku kedua ini saya bercerita tentang hasil karya warga binaan yang sudah memiliki nilai jual dan tambah untuk ekspor,” ujar Evy.

Evy menghabiskan waktu selama hampir satu tahun untuk menggarap buku ini. Mulai dari 2016 hingga akhir 2017. “Pembuatan selama sembilan bulan dari 2016 akhir sampai 2017 akhir.

Evy bercerita alasan dirinya membuat buku Made in Prison. Semuanya bermula saat dirinya yang menemani suaminya melihat berbagai kerajinan yang dibuat penghuni lapas.

Ya pada awalnya tentunya saat itu saya menemani suami saya untuk kunjungan kerja dari lapas-lapas di seluruh Indonesia, sebagai wiraswasta saya melihat potensi yang sangat baik,”katanya

Penjara, atau Lembaga Pemasyarakatan, ternyata tak melulu identik dengan hal yang suram dan menyeramkan. Berbagai karya kreatif telah dihasilkan dari balik jeruji besi: roti-roti lezat, lukisan bernilai seni tinggi, bahkan produk garmen berkualitas ekspor. Semua itu adalah buah karya para narapidana, atau yang kerap disebut sebagai warga binaan.

Produk-produk buatan warga binaan itu menyimpan beragam cerita, dari yang getir hingga yang haru. Melalui kegiatan produktif, mereka mengubah penyesalan menjadi harapan akan kesempatan kedua untuk kembali hidup di tengah-tengah masyarakat.( Budi)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here