PARRA19 Mendeklarasikan Dwi Tunggal Rizal Ramli Dan Adhyaksa Dault Sebagai Capres dan Cawapres  

Harianjakarta.com, Jakarta. -Pergerakan aktivis Relawan Rizal-Adhyaksa (PARRA 19) menyelenggarakan Diskusi Publik dengan tema, “Presiden Pilihan Rakyat”, Rabu (9/5/2018) pukul 12.00 WIB.

Acara bertempat di restaurant Raden Bahari Jl Warung Buncit Raya No 135, Mampang, Jakarta Selatan ini, sekaligus mendeklarasikan Dwi Tunggal Rizal Ramli sebagai capres dan Adhyaksa Dault sebagai cawapres.

PARRA 19 menyebutkan, tampil sebagai pembicara pada diskusi tersebut, pembicara Ubedillah Badrun, Rico Marbun, Ridwan Saidi, Ray Rangkuti, Herdi Sahrasad. Diskusi dipandu Andrianto.

Rizal Ramli (RR) dan Adhyaksa Dault (AD) sebagai Calon Presiden/Wakil Presiden adalah dwi tunggal yang mumpuni dengan pengalaman pemerintahan yang mumpuni dan sebuah kombinasi yang menarik serta saling melengkapi.

Rizal jelas dia adalah seorang tokoh mahasiswa, pakar ekonomi dan politikus Indonesia. Dimana sejak menjadi mahasiswa ITB, Rizal muda selalu mengggelorakan wajib belajar kepada puluhan juta anak Indonesia yang kemudian diadopsi negara menjadi program wajib belajar sembilan tahun.

Saat itu, Rizal bersama Dewan Mahasiswa ITB juga menolak Soeharto melanjutkan jabatan Presiden dalam SI MPR 1978. Akibatnya Rizal bersama kawan-kawan di DM ITB harus meringkuk di LP Sukamiskin lebih kurang 2 tahun lamanya.

“Daya juang Rizal Ramli yang kokoh sejak bangku kuliah membuat sosoknya punya daya kritis fenomenal alias urat takutnya sudah putus dalam membela kepentingan rakyat,” jelas Santoso.

Daya juang itu kata dia tak surut bahkan setelah Rizal dipercaya menduduki jabatan pemerintah sebagai Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog), Menteri Koordinator bidang Perekonomian, serta Menteri Keuangan Indonesia pada Kabinet Persatuan Nasional pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

“Rizal Ramli terbukti bekerja out the box, Bulog diberesi, rekening yang jumlahnya ratusan dirapihkan, tinggal puluhan rekening yang accountable. Bulog jadi sehat dan negara aman karena logistik Bulog itu. Begitu juga ketika Menko dan Menkeu era Gus Dur banyak prestasi yang membanggakan, inflasi rendah, utang minim, negosiasi dengan Freepot serta penyelamatan BUMN seperti PLN, Garuda, Bank BII yang sukses dengan gemilang,” urainya.

Bahkan, lanjut dia, saat menjabat sebagai Menko Maritim dan Sumber Daya di era Presiden Joko Widodo, menurut Santoso, gebrakan Rizal begitu dahsyat sehingga menciptakan perubahan internal kabinet kerja yang loyo dan sepi prestasi. RR sapaan khasnya dinilai mampu membuat Kabinet Kerja berdenyut dengan gebrakannya yang out the box pula. Publik dan media memberi nama Rajawali Kepret.

“Pelindo, PLN, Garuda dan lain-lain dikepret padahal ini bau anyir KKN yang kental,” imbuhnya.

Puncaknya, lanjut Santoso, ketika Rizal mengkepret mega proyek reklamasi di pantai bagian utara Jakarta.

“Rizal Ramli teguh menutup projek ini meski banyak pihak tahu ada koneksi para pemilik project dengan orang nomor satu di republik ini dan terbukti Rizal Ramli tersingkir dizalimi para taipan reklamsi dan atasannya pun ternyata berpihak sama taipan,” ujarnya.

Makanya, kata dia, oleh sebagian kalangan, Rizal Ramli dijuluki sebagai “Sang Penerobos”. Hal itu menurutnya karena ide-idenya yang tidak konvensional namun tepat sasaran, dan berpihak pada kepentingan rakyat setelah daya rusak yang dibuat rezim Jokowi-Kalla, utamanya ukonomi terkait makin jauh tertinggal bahkan dengam negara sekecil Vietnam.

“Maka figur yang mumpuni di bidang ekonomi dengan track record teruji (adalah Rizal Ramli). Ingat Abraham Lincoln, Presiden ke 16 dan terbaik sepanjang masa di USA berucap, ‘bila mau uji integritas seseorang ialah ketika dia berkuasa’, dan Rizal Ramli lah yang sudah teruji cocok untuk menjadi Presiden ke 8,” pungkas Santoso.

Andrianto Sip, Dewan Pengarah PARRA 19 (Pergerakan Aktivis Relawan Rizal Adhyaksa) mengatakan bahwa RR sebagai figur mumpuni di bidang ekonomi yang teruji track recordnya sangat pantas jadi calon Presiden pada 2019 mendatang”.

” Kegagalan rezim Jokowi Kalla yang akibatkan daya rusak ekonomi yang parah, tentu harus figur sekuat RR yang mampu memberesi keadaan,” ujarnya

“RR sangat loyal pada kepentingan rakyat sudah teruji dalam kasis reklamasi teluk Jakarta. Kita butuh sosok yang kuat terhadap intervensi aseng, asing dan para taipan/konglomerat”, tegas aktifis mahasiswa 98 ini.

Sedangkan Adhyaksa yang mumpuni dalam hal kepemudaan sangat concern bagaimana jumlah kaum muda yang besar ini punya arahan yang jelas.

Adhyaksa prototipe pekerja keras Dengan bidang yang berbeda tentu mereka saling mengisi dan yang terpenting keduanya sosok yang clean dan clear. Demikian Andrianto.(Budi)