Harianjakarta.com ,Jakarta — Era globalisasi telah membuat masyarakat semakin sadar akan pentingnya mempelajan’ bahasa asing. Kemampuan bahasa asing termasuk bahasa Mandarin dijadikan sebagai suatu persiapan demi meningkatkan kompetensi saat memasuki dunia keija Saat ini, Bahasa Mandarin telah menjadi pilihan utama bagi mereka yang beiajar bahasa asing (Chinese as foreign language). Jumlah orang non-Tionghoa yang belajar bahasa Mandarin meningkat dengan cepat. Setiap tahun ada sekitar 750.000 orang dan’ seluruh dunia mengikuti Tes Kemahiran Bahasa Mandarin (Official Chinese Projiciency Test / HSK). Mereka berasal dari latar belakang dan bidang keilmuan yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama yaitu melalui bahasa Mandarin memahami Tiongkok dan berharap mendapatkan keuntungan baik untuk alasan pribadi manpun nntuk peluang bisnis.

Hal ini di sampaikan oleh Fery Ketua Program Studi Sastra Tiongkok dan Pusat Bahasa Mandarin Universitas Al Azhar Indonesia dalam acara Seminar Intemasional dan Roundtable Meeting “Pengajaran Bahasa Mandarin Profesio ” se Asia Tenggara yang pertama di Universitas Al Azhar,Jakarta, Selasa (10/7).

“Dalam hubungan antar negara, penguasaan Bahasa Mandarin mampu membuka jalan menuju kerjasama yang lebih lanjut dengan Tiongkok dalam berbagai bidang, termasuk politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain,” tambahnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok dalam bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini ditandai dengan meningkatnya pertemuan antar pimpinan kedua negara. Sejak Presiden Jokowi menjabat sebagai Presiden RI pada Oktober 2014 tercatat telah beberapa kali bertemu dengan Presiden Xi Jinping yang juga dihadiri oleh para pejabat tinggi kedua negara. Dalam kurun waktu enam tahun terakhir sebanyak 60 kesepakatan keijasama Indonesia-Tiongkok ditandatangani, tidak kurang dari 20 diantaranya merupakan kerjasama dalam kerangka hubungan antar masyarakat (people to people exchange).

“Untuk mendukung hal tersebut, penguatan hubungan people-to-people yang terjalin melalui hubungan sosial dan budaya menjadi pilar yang sangat penting bagi hubungan kedua negara Pengenalan bahasa dan budaya Indonesia terhadap masyarakat Tiongkok, dan juga sebaliknya penguasaan bahasa Mandarin dan pemahaman terhadap budaya Tiongkok bagi masyarakat Indonesia menjadi suatu kebutuhan dalam menunjang keberhasilan kerjasama tersebut,” terang Feri selaku ketua panitia seminar.

Pengajaran bahasa Mandarin profesional untuk bidang-bidang tertentu misalnya bisnis, perkantoran, pan’wisata, pertambangan dan lain-lain menjadi satu kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi.

Acara ini berlangsung pada hari Selasa-Rabu 10-11 Juli 2018. Dihadiri Direktur Jendral Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Wakil Mentori Luar Negeri, Duta besar Republik Rakyat Tiongkok untuk ASEAN, Menteii Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kementerian Agama, Ketua Badan Pembina Yayasan Pesantren Islam Al Azhar dan Keynote Speech dari Filipina, Laos, China dan Thailand.

Feri berharap keberhasilan pcnyelenggaraan seminar ini akan bermamfaat bagi pengembangan pendidikan Bahasa Mandarin di Indonesia dan dapat menjadi referensi bagi banyak pihak yang berkepentingan dalam peningkatan hubnngan Indonesia dan Tiongkok melalui kerjasama sosial dan budaya.
(Budi)